Victor Axelsen Dan Chou Tien Chen Didenda BWF

Enchantedceiling.com, Berita Bulutangkis – Viktor Axelsen, pemain nomor empat dunia mungkin beberapa waktu lalu telah menandai kehebatannya dengan menjadi pemain Denmark pertama yang menjadi juara tunggal putra All England dalam 21 tahun, tetapi ia tidak diberi hak istimewa untuk melanggar aturan.

Victor Axelsen Dan Chou Tien Chen Didenda BWF

Axelsen didenda 250 (RM1.210) atau berkisar 4 juta rupiah oleh Federasi Badminton Dunia (BWF) karena mengenakan pakaian serba putih, sama seperti lawannya asal Taiwan, Chou Tien Chen di final All England dua minggu lalu di Birmingham Arena .

Dia telah melanggar Pasal 5.3.7 dari Peraturan Kompetisi Umum BWF untuk pakaian yang menyatakan bahwa adalah “wajib bagi pemain lawan untuk mengenakan warna yang sangat berbeda satu sama lain”.

Sebagai unggulan teratas, pemain nomor dua dunia, Tien Chen memiliki hak prerogatif untuk memilih warna kesukaannya.

Dan Axelsen, sebagai pemenang mendapatkan hadiah uang sebesar US $ 77.000 (RM333.000) atau berkisar 1,2 miliar rupiah tentu tidak akan keberatan membayar denda dan telah memberikan sisi ceritanya kepada para penggemarnya.

“Saya melakukannya karena saya bermain memakai seragam putih di seluruh turnamen. Saya juga tahu betapa pentingnya bagi sponsor saya bahwa kami tampil dengan tema ini,” kata Axelsen kepada TV2 Sport Denmark.

“Saya pikir aturannya agak konyol. Dan saya tidak melihat alasan mengapa kami harus dihukum.”

“Orang-orang di rumah (menonton siaran) di ruang keluarga mereka mungkin bisa melihat siapa orang Denmark itu,” ungkapnya.

“Saya pikir semua pemain harus mengenakan pakaian putih seperti Wimbledon. Itu terlihat bagus dan ada sesuatu yang keren tentang hal itu,” tambah mantan juara dunia itu.

Komentar Kevin/Gideon Usai Nyaris Menang di Final All England 2020

Enchantedceiling.com, Berita Bulutangkis – The Minions, julukan Kevin/Marcus, harus puas di posisi dua usai usahanya dihentikan pasangan Jepang, Endo/Yuta. Pertandingan yang sangat sengit ini menyajikan skill-skill tingkat tinggi dan berhasil menghipnotis penonton di Arena Birmingham. Pertandingan yang berlangsung selama 1 jam 12 menit ini menjadi pertandingan terlama dibandingkan laga final lain. Endo/Yuta akhirnya berhasil memastikan raihan trofi usai bermain 3 gim dengan skor 21-18 12-21 21-19.

Komentar Kevin/Gideon Usai Nyaris Menang di Final All England 2020

“Pasti kita sudah coba lakukan yang terbaik. Set pertama kita sudah fight, lalu memang kalah. Set kedua kita ubah strategi, kita mainnya agak dipelankan sedikit, dan itu mulai menemukan (permainannya). Tapi set ketiga mereka mulai cepatkan mainnya lagi. Tapi kami sudah coba lakukan yang maksimal, sudah mengejar. Terakhir juga sudah mau menang, 19-18 tapi akhirnya malah menempel net. Jadi kita belum rejekinya”, ujar Marcus saat ditanyai komentar pertandingan di ruang konferensi pers.

Kemenangan Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe atas Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di pertandingan final Yonex All England 2020 mencetak sejarah baru. Endo/Yuta menjadi ganda putra asal Jepang pertama yang menjuarai All England sepanjang sejarah. Rekor ini menjadi rekor kedua Yuta Watanabe setelah menjadi ganda campuran asal Jepang pertama yang menjuarai All England pada 2018 lalu. Bagi Hiroyuki Endo, ini juga merupakan raihan bersejarah mengingat Endo sudah 3 kali kalah di final All England sebelumnya saat berpasangan dengan Kenichi Hayakawa.

Hasil ini tentunya sangat menjadi cambuk bagi Kevin/Marcus. Pasangan nomor 1 dunia ini mengaku kesulitan membongkar pertahanan Endo/Yuta. Sejatinya Kevin/Marcus menjadi satu-satunya pasangan yang berhasil mencuri 1 gim dari unggulan 6 asal Jepang ini.

“Hasil kami ini kita syukuri saja. Main sudah lumayan baik. Namun, hari ini memang musuhnya bagus mainnya, lagi bagus di sini, belum pernah kalah satu set juga, lagi rapat juga (pertahanannya). Kemudian di terakhir tadi seperti spekulasi maju duluan Watanabe-nya. Jadi memang nekat juga”, tutup Marcus.

Kevin dan Marcus Maju Ke Delapan Besar All England 2020

Enchantedceiling.com, Berita Bulutangkis – Pasangan ganda putra Indonesia peringkat 1 dunia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi, tanpa kesulitan mencapai perempat final All England 2020 World Tour Super 1000, yang menyediakan hadiah total USD 1.100.000 atau berkisar 15,7 miliar rupiah, setelah menyingkirkan wakil asal China, Zhang Nan/Ou Xuan Yi.

Kevin dan Marcus Maju Ke Delapan Besar All England 2020

Menempati unggulan teratas, Kevin/Marcus sukses menundukkan Zhang/Ou dua game langsung yang sangat mudah dengan skor 21-9 dan 21-15, dalam pertandingan yang berlangsung di Birmingham Arena, Inggris pada Jumat (13/3) dini hari WIB.

Game pertama dimulai, Kevin/Marcus langsung in ke pertandingan tak membiarkan pasangan China untuk bisa bangkit dan berkembang sedikitpun. Alhasil game pertama berhasil ditutup dengan skor yang cukup telak.

Memasuki game kedua pasangan China mulai bangkit dan menunjukan perlawanan. Namun Kevin/Marcus yang lebih siap, terus fokus mendulang poin untuk terus memimpin hingga kembali menguasai game kedua, sekaligus mengklaim tiket perempat final All England 2020.

Dengan hasil ini, Kevin/Marcus sukses membalas kekalahan menyakitkan di babak pertama All England tahun lalu menghadapi Zhang Nan. Kala itu, Zhang yang berpasangan dengan Liu Cheng, berhasil menggagalkan ambisi Kevin/Marcus untuk mencatat hat-trick di turnamen tertua di dunia itu dengan menyingkirkan mereka di babak awal.

Di babak perempat final, Kevin/Marcus akan berjumpa dengan pasangan asal Malaysia peringkat 8 dunia, Aaron Chia Hsin/Soh Wooi Yik yang di laga lainnya berhasil menyingkirkan ganda putra asal Taiwan, Lu Chig Yao/Yang Po Han dengan 24-22 dan 21-17 dalam tempo 48 menit.

Sementara tunggal putra Shesar Hiren Rhustavito terhenti di perdelapan final. Kekalahan Shesar membuat Indonesia kehabisan wakil di tunggal putra All England 2020.

Masih ada lima andalan lain Indonesia yang belum bertanding di 16 besar, termasuk dua ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.